News Update27 Juni 2019 13:06:27: Syawalan Keluarga Besar MAN 4 Sleman

Pujangga dalam Perspektif Keraton

Sejak masuknya agama Hindu dan Buddha ke Indonesia pada sekitar abad ke V telah membawa perubahan pada kehidupan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia telah mengakhiri tradisi praaksara dengan ditandai mulai dikenalnya huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Kebudayaan Hindu dan Buddha yang berasal dari India telah mewarnai kehidupan di Nusantara. Bangsa Indonesia mulai mengenal sistem tata pemerintahan dan konsep raja. Pemimpin suatu wilayah atau kerajaan tidak lagi ditetapkan secara Primus Interpares, akan tetapi ditetapkan secara garis keturunan.  Kerajaan Hindu dan Buddha mulai tumbuh  di Nusantara, tercatat dalam sejarah dimulai dengan munculnya kerajaan Kutai kemudian terus berkembang muncul Tarumanegara, Mataram Kuno, Sriwijaya, Kediri, Singasari dan Majapahit. Sejak saat itu kemudian tradisi menulis juga semakin berkembang, prasasti dan kitab kitab kuno hasil karya pujangga kerajaan telah mewarnai kehidupan kerajaan di Indonesia kala itu. Kitab  kitab tersebut selain karya asli dari pujangga pujangga kerajaan di Indonesia, ada juga kitab kitab yang tercatat sebagai saduran dari kitab kitab yang berasal dari India, sebagai contoh Ramayana dan Mahabarata.

Masukknya agama Islam ke Indonesia telah membawa perkembangan tradisi tulis ini semakin berkembang pesat, hal ini disebabkan tradisi belajar menurut agama Islam hukumnya wajib baik untuk laki laki maupun perempuan.Kerajaan kerajaan Islam mulai tumbuh menggantikan kerajaan kerajaan yang bercorak Hindu dan Buddha. Mataram Islam sebagai salah satu kerajaan Islam di Indonesia mempunyai ciri yang berbeda dalam mewarisi tradisi tulis ini. Pihak keraton akan mengangkat seorang Pujangga kerajaan yang bertugas untuk menjadi seorang “sekretaris “ kerajaan sekaligus “ahli nujum” bagi kerajaan, tetapi tidak jarang ada juga seorang raja yang sekaligus beliau sebabagai pujangga. Sebut saja Sultan Agung, Pakubuwana III,  IV , VI dan X.  Sebelum mereka diangkat menjadi seorang pujangga mereka akan dikirim oleh orangtuanya untuk belajar terlebih dahulu ke pondok pondok pesantren untuk memperdalam keilmuannya. Pujangga sangat piawai dalam berbagai macam ilmu, seperti ilmu tata pemerintahan, sastra, agama berbagai ilmu lainnya. Seorang pujangga juga mempunyai kemampuan linuwih yang dinamakan dengan istilah isoterik. Kemampuan presisi dalam memprediksi ini pada kemudian hari menjadikan pujangga pujangga ini terkenal karena ramalan ramalannya benar benar terbukti.

Rangga Warsito, nama yang sangat sering terdengar di telinga kita, ya beliau adalah salah satu pujangga besar dari Kasunanan Surakarta. Beliau disebut sebut sebagai pujangga terakhir di tanah Jawa. Nama beliau begitu fenomenal berkat karya karya nya yang membahas falsafah, ilmu kebatinan, primbon sejarah dan lakon wayang. Ramalan ramalan beliau tentang fenomena alam, tokoh tokoh politik dan fenomena politik begitu tepat bahkan tentang kematian dirinya sendiri. Perihal kematian sang Rangga Warsito, beliau telah memprediksi sebelumnya dan hasilnya sangat tepat, meskipun akhirnya menimbulkan banyak kontroversi tentang penyebab kematian beliau.

Siapa sebenarnya Rangga Warsito ? Rangga Warsito tidak lain adalah buyut dari Yasadipuro II pujangga utama Kasunanan Surakarta. Ayahnya adalah Mas Pajangwara yang merupakan salah satu simpatisan Pangeran Diponegoro, dan inilah yang menyebabkan kematian ayahnya di penjara Belanda. Kematian ayahnya di tangan kolonial Belanda inilah kemungkinan yang menyebabkan kebencian Rangga Warsito pada Belanda kelak melalui tulisannya. Rangga Warsito muda mendapatkan pendidikan di pondok pesantren Tegalsari Ponorogo bersama Kyai Imam Besari, seorang ulama besar yang sangat terkenal pada zamannya. Rangga Warsito muda bukanlah seorang pemuda yang pandai dan cerdas, dia seorang pemuda yang mempunyai kebiasaan buruk yaitu suka berjudi dan menyabung ayam dan perbuatan maksiat lainnya. Semakin lama kebiasaan buruknya semakin parah, Rangga Warsito bahkan pergi meninggalkan pondok dan berkelana keliling Jawa Timur sampai ke wilayah Madiun untuk sekedar mengejar ambisinya.   Sampai ketika Kyai Imam Besari berdoa memohon kepada Tuhan untuk memberikan pencerahan kepada Rangga Warsito. Rangga Warsito diminta untuk bertapa kungkum di sungai, dari situlah ia mendapatkan ilham dan kemudian menjadi Rangga Warsito yang baik dan cerdas. Beliau dengan mudah menerima ilmu yang diberikan oleh gurunya. Beliau menjadi murid yang sangat takdzim terhadap gurunya sangat berbeda dengan tabiat dia ketika awal datang ke pondok. Sepertinya kisah Ken Arok terulang kembali pikir Kyai Imam Besari.

Selesai dari pondok pesantren Tegalsari Ponorogo, Rangga Warsito pulang ke Surakarta. Pada tahun 1844 beliau diangkat sebagai Carik dan disahkan menjadi pujangga keraton. Sejak diangkat sebagai pujangga keraton inilah kiprah beliau dalam sastra semakin luar biasa, banyak sekali karya karya yang dihasilkan. Karya karya beliau yang berisi ramalan ramalan sangat menarik untuk dibaca karena seolah olah beliau benar benar bisa memprediksi apa yang akan terjadi dikemudian hari. Salah satu ramalan beliau yang cukup terkenal adalah bahwa suatu saat nanti akan muncul tokoh “Satria Piningit Kinunjara Murwa Kuncara”, ( seorang satria tersembunyi yang dipenjara tetapi menjadi terkenal ) yang akan membebaskan bangsa ini dari penjajahan kolonial.  Ramalan ini beliau tulis sekira seratus tahun sebelum kelahiran Soekarno, dan hal ini terbukti dengan munculnya seorang tokoh yang bernama Soekarno yang berusaha untuk membebaskan negeri ini dari penjajahan kolonial Belanda setelah sebelumnya beliau dipenjarakan oleh Belanda di penjara Sukamiskin Bandung. Kita bisa membayangkan betapa ramalan beliau betul betul terbukti, padahal ramalan beliau itu sudah lama sekali ditulis. Itu hanyalah sepenggal kisah ramalan beliau tentang masa depan, tentunya masih banyak lagi ramalan ramalan beliau lainnya yang menarik untuk dipelajari karena selalu bersifat kontekstual dengan keadaan bangsa Indonesia saat ini (fitria nuha salsabila, XI IPA 1)

Banner
MAN 4 Sleman (dahulu bernama MAN Pakem)
Kanwil Kemenag DIY
NISN
PKP HUI
Statistik Member
Member:2 Orang
Member Aktif:2 Orang
Member Baru Hari Ini:0 Orang
Statistik Pengunjung
Pengunjung Online:2
Total Pengunjung:20018
Total Hits:60335